Jumat, 25 Oktober 2013

ASKEP OSTEOKONDROMA



BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Osteokhondroma merupakan tumor jinak tersering kedua (32,5%) dari seluruh tumor jinak tulang dan terutama ditemukan pada remaja yang pertumbuhannya aktif dan pada dewasa muda . Ada tiga macam tumor tulang yaitu yang bersifat lunak, ganas dan yang memiliki lesi di tulang (berlubangnya struktur karena jaringan akibat cedera atau penyakit). Selain itu ada yang bersifat primer dan skunder. Pada tumor tulang sekunder misalnya, seseorang terkena tumor payudara, kemudian menjalar ke tulang dan selanjutnya menggerogoti tulang tersebut. Kanker tulang ini merupakan kelompok tumor tulang yang ganas. Keganasan tulang dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu tumor benigna dan maligna.
Menurut Errol untung hutagalung, seorang guru besar dalam Ilmu Bedah Orthopedy Universitas Indonesia, dalam kurun waktu 10 tahun (1995-2004) tercatat 455 kasus tumor tulang yang terdiri dari 327 kasus tumor tulang ganas (72%) dan 128 kasus tumor tulang jinak (28%). Di RSCM jenis tumor tulang osteosarkoma merupakan tumor ganas yang sering didapati yakni 22% dari seluruh jenis tumor tulang dan 31 % dari seluruh tumor tulang ganas. Dari jumlah seluruh kasus tumor tulang 90% kasus datang dalam stadium lanjut. Angka harapan hidup penderita kanker tulang mencapai 60% jika belum terjadi penyebaran ke paru-paru. Sekitar 75% penderita bertahan hidup sampai 5 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis. Sayangnya penderita kanker tulang kerap datang dalam keadaan sudah lanjut sehingga penanganannya menjadi lebih sulit. Jika tidak segera ditangani maka tumor dapat menyebar ke organ lain, sementara penyembuhannya sangat menyakitkan karena terkadang memerlukan pembedahan radikal diikuti kemotherapy.

1.2         Tujuan Penulisan
1.      Tujuan Umum
Mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat secara nyata dalam memberikan asuhan keperawatan dengan tumor tulang secara komprehensif.

2.      Tujuan khusus
a.       Mampu melaksanakan pengkajian menyeluruh pada pasien tumor tulang
b.      Mampu menganalisa dan menentukan masalah keperawatan pada pasien tumor tulang
c.       Mampu melakukan intervensi dan implementasi untuk mengatasi masalah keperawatan yang timbul pada pasien tumor tulang
d.      Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan pada pasien dengan tumor tulang

1.3         Manfaat
Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari pembahasan tentang osteokondroma, diantaranya adalah :
a.         Dapat mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat secara nyata dalam memberikan asuhan keperawatan dengan tumor tulang secara komprehensif.
b.         Mampu melaksanakan pengkajian menyeluruh pada pasien tumor tulang.
c.         Mampu menganalisa dan menentukan masalah keperawatan pada pasien tumor tulang.
d.        Mampu melakukan intervensi dan implementasi untuk mengatasi masalah keperawatan yang timbul pada pasien tumor tulang.
e.         Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan pada pasien dengan tumor tulang.




BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1   Konsep Dasar Penyakit Tulang
Rangka matang terdiri dari tulang,jaringan fibrosa dan rawan. Dari sel-sel ini atau jaringan mesenkim primitif asalnya, bisa berkembang neoplasma rangka primer jinak atau ganas. Neoplasma system muskulus skeletal bisa berbentuk macam-macam seperti tumor osteogenik, konrogenik, fibrogenik, otot atau rabdomiogenik dan sel sumsum (reticulum) bisa juga tumor saraf, vaskuler dan sel lemak. Biasanya merupakan tumor primer atau tumor metaststik dari kanker primer di tempat lain. Tumor tulang metastatik lebih sering dibanding tumor tulang primer.
Terdapat dua tipe tumor tulang atau neoplasma yaitu primer dan metastatik. Tumor yang berasal dari tulang (primer) mencakup tulang tidak berbahaya seperti ostioma, kondroma, tumor sel raksasa, kista dan osteid osteoms. Tumor primer yang jinak tumbuh dengan lambat pada area terbatas dan jarang skali meluas. Tumor primer yang ganas sangat jarang menyerang orang dewasa dan jika menyerang tumor ini akan mencakup osteosarcoma dan multiple myeloma tumor maligna sering bermetastase sampai paru-paru selama tahap awalnya. Osteosarkoma merupakan keganasan tulang yang utama, sering ditemukan pada anak-anak dan remaja. Tumor tulang metastatik awalnya terdapat pada paru-paru, payudara, prostat, ginjal, ovary, atau tiroid. Tumor ini lebih sering terjadi daripada tumor tulang primer dan memiliki prognosis yang buruk. Carsinoma akan lebih sering termetastasikan ke tulang daripada sarcoma.
2.2  Tumor Tulang
Tumor tulang primer merupakan tumor yang berasal dari tulang itu sendiri.
Tumor Tulang Benigna, terdiri atas bebrapa khasus diantaranya adalah
-          Kondrogenik : Osteokondroma, Kondroma
-          Osteogenik : Osteoid osteoma, Osteobalstoma, Tumor sel Giant
Tumor Tulang Maligna, terdiri atas bebrapa khasus diantaranya adalah
-          Kondrogenik : Kondrosarkoma
-          Osteogenik : Osteosarkoma
-          Fibrogenik : Fibrosarkoma
-          Tidak jelas asalnya : Sarcoma Ewing

a.       Tumor Tulang Benigna (Jinak)
Biasanya tumbuh lambat dan berbatas tegas, gejalanya sedikit dan tidak menimbulkan kematian. Neoplasma ini meliputi osteoma osteoid, osteoblastoma, osteokondroma, enkondroma, kondroma, tumor sel raksasa, kista tulang dan ganglion. Tumor benigna tulang dan jaringan lunak lebih sering daripada tumor maligna. Beberapa tumor benigna seperti tumor sel raksasa mempunyai potensial mengalami tranformasi maligna.

b.      Osteokondroma
Tumor tulang yang paling umum ditemukan adalah osteokondroma. Meskipun awitannya biasanya dimulai pada masa anak, tumor ini berkembang sampai maturitas skeletal dan mungkin tidak terdiagnosa sampai masa dewasa. Tumor ini mungkin tumbuh tunggal ataupun multiple dan dapat terjadi pada tulang manapun. Femur dan tibia adalah yang paling sering terkena. Pada tampilan makro, tumor mempunyai tudung kartilagenus dengan tunas tulang menembus dari tulang. Seiring perkembangan tudung, tumor menulang dan mungkin menjadi maligna. Kira-kira 10% osteokondroma berkembang menjadi sarkoma.
Osteokondroma terjadi kira-klira 40% dari semua tumor benigna dan ini diterapi melalui cenderung terjadi pada pria.

2.3  Osteokondroma
2.4.1           Definisi osteokondroma
Osteochondroma adalah tumor jinak tulang dengan penampakan adanya penonjolan tulang yang berbatas tegas sebagai eksostosis yang muncul dari metafisis, penonjolan tulang ini ditutupi (diliputi) oleh cartilago hialin. Tumor ini berasal dari komponen tulang (osteosit) dan komponen tulang rawan (chondrosit). Osteochondroma merupakan perkembangan umum dari plat pertumbuhan perangkat yang menghasilkan perkembangan lobulated tulang rawan dan tulang dari metaphysis tersebut. Muncul sebagai proyeksi tulang tulang rawan-capped dari metaphysis tulang panjang. Dapat terjadi dalam tulang yang berkembang dari pengerasan enchondral.
Osteokhondroma merupakan tumor jinak tersering kedua (32,5%) dari seluruh tumor jinak tulang dan terutama ditemukan pada remaja yang pertumbuhannya aktif dan pada dewasa muda. Osteokondroma sering terjadi  pada tulang panjang, biasanya tulang paha proksimal atau distal, tibia proksimal, pelvis, atau scapula 10-25 tahun orang (berhenti tumbuh pada saat jatuh tempo tulang). Pertumbuhan lesi paralel bahwa pasien.

2.4.2                    Etiologi
Penyebab pasti terjadinya tumor tulang tidak diketahui. Akhir-akhir ini, penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suatu zat dalam tubuh yaitu C-Fos dapat meningkatkan kejadian tumor tulang. Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi, keturunan, beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya seperti penyakit paget (akibat pajanan radiasi ), (Smeltzer. 2001).
Meskipun tidak ada penyebab tumor tulang yang pasti, ada beberapa factor yang berhubungan  dan memungkinkan menjadi faktor penyebab terjadinya  tumor tulang yang meliputi:.
-          Genetik
Beberapa kelainan genetik dikaitkan dengan terjadinya keganasan tulang, misalnya sarcoma jaringan lunak atau soft tissue sarcoma (STS). Dari data penelitian diduga mutasi genetic pada sel induk mesinkin dapat menimbulkan  sarcoma. Ada beberapa gen yang sudah diketahui ,mempunyai peranan dalam  kejadian sarcoma,  antara lain gen RB-1 dan p53. Mutasi p53 mempunyai peranan yang jelas dalam terjadinya STS. Gen lain yang juga diketahui  mempunyai peranan adalah gen MDM-2 (Murine Double Minute 2). Gen ini dapat menghasilkan suatu protein yang dapat mengikat pada gen p53 yang telah mutasi dan menginaktivitas gen tersebut.

-          Radiasi.
Keganasan jaringan lunak dapat terjadi pada daerah tubuh yang terpapar radiasi seperti pada klien karsinoma mamma dan limfoma maligna yang mendapat radioterapi. Halperin dkk. Memperkirakan resiko terjadinya sarcoma pada klien penyakit Hodgkin yang diradiasi adalah 0,9 %.  Terjadinya keganasan jaringan lunak dan bone sarcoma akibat pemaparan radiasi sudah diketahui sejak 1922. Walaupun jarang ditemukan, prognosisnya buruk dan umumnya high grade.
Tumor yang sering ditemukan akibat radiasi adalah malignant fibrous histiocytoma (MFH) dan angiosarkoma atau limfangiosarkoma. Jarak waktu antara radiasi dan terjadinya sarcoma diperkirakan sekitar 11 tahun.

-          Bahan Kimia.
Bahan kimia seperti Dioxin dan Phenoxyherbicide diduga dapat menimbulkan sarkoma, tetapi belum dapat dibuktikan. Pemaparan terhadap torium dioksida (Thorotrast), suatu bahan kontras, dapat menimbulkan angiosarkoma, pada hepar, selain itu, abses juga diduga dapat menimbulkan mosotelioma,  sedangkan polivilin klorida dapat menyebabkan angiosarkoma hepatik.

-          Trauma
Sekitar 30 % kasus keganasan pada jaringan lunak mempunyai riwayat trauma. Walaupun sarkoma kadang-kadang timbul pada jaringan sikatriks lama, luka bakar, dan riwayat trauma, semua ini tidak pernah dapat dibuktikan.

-          Limfedema kronis.
Limfedema akibat operasi atau radiasi dapat menimbulkan limfangiosarkoma dan kasus limfangiosarkoma pada ekstremitas superior ditemukan pada klien karsinoma mammae yang mendapat radioterapi pasca-mastektomi.

-          Infeksi.
Keganasan pada jaringan lunak dan tulang dapat juga disebabkan oleh infeksi parasit, yaitu filariasis. Pada klien limfedema kronis akibat obstruksi, filariasis dapat menimbulkan limfangiosrakoma.



2.4.3                    Klasifikasi
Klasifikasi neoplasma tulang berdasarkan asal sel.
a.       Primer
                                           i.          Tumor yang membentuk tulang (Osteogenik)
Jinak      : - Osteoid Osteoma
Ganas    : - Osteosarkoma
 - Osteoblastoma
 - Parosteal Osteosarkoma, Osteoma
                                         ii.          Tumor yang membentuk tulang rawan (Kondrogenik)
Jinak      : - Kondroblastoma
Ganas    : - Kondrosarkoma
                     - Kondromiksoid Fibroma
 - Enkondroma
 - Osteokondroma
                                     iii.            Tumor jaringan ikat (Fibrogenik)
Jinak    : - Non Ossifying Fibroma
Ganas  : - Fibrosarkoma
                                       iv.          Tumor sumsum tulang (Myelogenik)
Ganas    : - Multiple Myeloma
-   Sarkoma Ewing
-   Sarkoma Sel Retikulum
                                         v.          Tumor lain-lain
Jinak      : - Giant cell tumor
Ganas    : - Adamantinoma
              - Kordoma

b.         Sekunder/Metastatik

c.         Neoplasma Simulating Lesions
- Simple bone cyst
- Fibrous dysplasia
- Eosinophilic granuloma
- Brown tumor/hyperparathyroidism

d.      Klasifikasi menurut TNM.
-    T. Tumor induk
-    TX tumor tidak dapat dicapai
-    T0 tidak ditemukan tumor primer
-    T1 tumor terbatas dalam periost
-    T2 tumor menembus periost
-    T3 tumor masuk dalam organ atau struktur sekitar tulang
-    N Kelenjar limf regional
-    N0 tidak ditemukan tumor di kelenjar limf
-    N1 tumor di kelenjar limf regional
-    M. Metastasis jauh
-    M1 tidak ditemukan metastasis jauh
-    M2 ditemukan metastasis jauh

2.4.4        Faktor Resiko
Faktor pencetus tumor tulang yaitu factor genetika. Hal ini berdasarkan data dari sejumlah penelitian.
2.4.5        Patofisiologi
Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak diinvasi oleh sel tumor. Timbul reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses destruksi atau penghancuran tulang dan respon osteoblastik atau proses pembentukan tulang. Terjadi destruksi tulang lokal. Pada proses osteoblastik, karena adanya sel tumor maka terjadi penimbunan periosteum tulang yang baru dekat tempat lesi terjadi, sehingga terjadi pertumbuhan tulang yang abortif.
Kelainan congenital, genetic, gender / jenis kelamin, usia, rangsangan fisik berulang, hormon, infeksi, gaya hidup, karsinogenik (bahan kimia, virus, radiasi) dapat menimbulkan tumbuh atau berkembangnya sel tumor. Sel tumor dapat bersifat benign (jinak) atau bersifat malignant (ganas).
Sel tumor pada tumor jinak bersifat tumbuh lambat, sehingga tumor jinak pada umumnya tidak cepat membesar. Sel tumor mendesak jaringan sehat sekitarnya secara serempak sehingga terbentuk simpai (serabut pembungkus yang memisahkan jaringan tumor dari jaringan sehat). Oleh karena bersimpai maka pada umumnya tumor jinak mudah dikeluarkan dengan cara operasi.
Sel tumor pada tumor ganas (kanker) tumbuh cepat, sehingga tumor ganas pada umumnya cepat menjadi besar. Sel tumor ganas tumbuh menyusup ke jaringan sehat sekitarnya, sehingga dapat digambarkan seperti kepiting dengan kaki-kakinya mencengkeram alat tubuh yang terkena. Disamping itu sel kanker dapat membuat anak sebar (metastasis) ke bagian alat tubuh lain yang jauh dari tempat asalnya melalui pembuluh darah dan pembuluh getah bening dan tumbuh kanker baru di tempat lain. Penyusupan sel kanker ke jaringan sehat pada alat tubuh lainnya dapat merusak alat tubuh tersebut sehingga fungsi alat tersebut menjadi terganggu.
Kanker adalah sebuah penyakit yang ditandai dengan pembagian sel yang tidak teratur dan kemampuan sel-sel ini untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak teratur ini menyebabkan kerusakan DNA, menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembagian sel, dan fungsi lainnya (Tjakra, Ahmad. 1991).
Adapun siklus tumbuh sel kanker adalah membelah diri, membentuk RNA, berdiferensiasi / proliferasi, membentuk DNA baru, duplikasi kromosom sel, duplikasi DNA dari sel normal, menjalani fase mitosis, fase istirahat (pada saat ini sel tidak melakukan pembelahan).

2.4.6        Tanda Dan Gejala
a.       Rasa sakit (nyeri)
Nyeri dan atau pembengkakan ekstremitas yang terkena (biasanya menjadi semakin parah pada malam hari dan meningkat sesuai dengan progresivitas penyakit).
b.      Pembengkakan
Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas (Gale. 1999: 245).
c.       Keterbatasan gerak
d.      Fraktur patologik.
e.       Menurunnya berat badan
f.       Teraba massa
Lunak dan menetap dengan kenaikan suhu kulit di atas massa serta distensi pembuluh darah maupun pelebaran vena.
g.      Gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada, batuk, demam, berat badan menurun dan malaise (Smeltzer. 2001: 2347).

2.4.7        Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan yang biasa dilakukan:
-    Pemeriksaan radiologis menyatakan adanya segitiga codman dan destruksi tulang.
-    CT scan dada untuk melihat adanya penyebaran ke paru-paru.
-    Biopsi terbuka menentukan jenis malignansi tumor tulang, meliputi tindakan insisi, eksisi, biopsi jarum, dan lesi-lesi yang dicurigai.
-    Skrening tulang untuk melihat penyebaran tumor.
-    Pemeriksaan darah biasanya menunjukkan adanya peningkatan alkalin fosfatase.
-    MRI digunakan untuk menentukan distribusi tumor pada tulang dan penyebaran pada jaringan lunak sekitarnya.
-    Scintigrafi untuk dapat dilakukan mendeteksi adanya “skip lesion”, ( Rasjad. 2003).

2.4.8        Penatalaksanaan Medik
Penatalaksanaan tergantung pada tipe dan fase dari tumor tersebut saat didiagnosis. Tujuan penatalaksanaan secara umum meliputi pengangkatan tumor, pencegahan amputasi jika memungkinkan dan pemeliharaan fungsi secara maksimal dari anggota tubuh atau ekstremitas yang sakit. Penatalaksanaan meliputi pembedahan, kemoterapi, radioterapi, atau terapi kombinasi. Osteosarkoma biasanya ditangani dengan pembedahan dan / atau radiasi dan kemoterapi. Protokol kemoterapi yang digunakan biasanya meliputi adriamycin (doksorubisin) cytoksan dosis tinggi (siklofosfamid) atau metrotexate dosis tinggi (MTX) dengan leukovorin. Agen ini mungkin digunakan secara tersendiri atau dalam kombinasi.
Bila terdapat hiperkalsemia, penanganan meliputi hidrasi dengan pemberian cairan normal intravena, diuretika, mobilisasi dan obat-obatan seperti fosfat, mitramisin, kalsitonin atau kortikosteroid. ( Gale. 1999: 245 ).
Tujuan dari penatalaksanaan adalah untuk menghancurkan atau mengangkat jaringan maligna dengan menggunakan metode yang seefektif mungkin.
Secara umum penatalaksanaan osteosarkoma ada dua, yaitu:
1.      Pada pengangkatan tumor dengan pembedahan biasanya diperlukan tindakan amputasi pada ekstrimitas yang terkena, dengan garis amputasi yang memanjang melalui tulang atau sendi di atas tumor untuk control lokal terhadap lesi primer. Beberapa pusat perawatan kini memperkenalkan reseksi lokal tulang tanpa amputasi dengan menggunakan prosthetik metal atau allograft untuk mendukung kembali penempatan tulang-tulang.
2.      Kemoterapi
Obat yang digunakan termasuk dosis tinggi metotreksat yang dilawan dengan factor citrovorum, adriamisin, siklifosfamid, dan vinkristin.

2.4.9        Komplikasi
Komplikasi terjadi karena beberapa sebab, di antaranya adalah :
a.       Akibat langsung : patah tulang
b.       Akibat tidak langsung : penurunan berat badan, anemia, penurunan kekebalan tubuh
c.       Akibat pengobatan : gangguan saraf tepi, penurunan kadar sel darah, kebotakan pada kemoterapi.



BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1  Pengkajian
3.1.1        Identitas pasien
Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, keyakinan, pekerjaan, status perkawinan, dan alamat.

3.1.2        Riwayat kesehatan
Dapatkan riwayat kesehatan, proses penyakit, bagaimana keluarga dan pasien mengatasi masalahnya dan bagaimana pasien mengatasi nyeri yang dideritanya. Berikan perhatian khusus pada keluhan misalnya : keletihan, nyeri pada ekstremitas, berkeringat pada malam hari, kurang nafsu makan, sakit kepala, dan malaise.
Keluhan utama pada klien biasanya:
a.       Pasien mengeluh nyeri pada daerah tulang yang terkena.
b.      Klien mengatakan susah untuk beraktifitas/keterbatasan gerak
c.       Mengungkapkan akan kecemasan akan keadaannya

3.1.3        Pengkajian fisik
a.       Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena.
b.      Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian  karena tumor atau serta pergerakan yang terbatas.
c.       Nyeri tekan / nyeri lokal pada sisi yang sakit, seperti :
- mungkin hebat atau dangkal
- sering hilang dengan posisi flexi
- anak berjalan pincang, keterbatasan dalam melakukan aktifitas, tidak mampu menahan objek berat
d.      Kaji status fungsional pada area yang sakit, tanda-tanda inflamasi, nodus limfe regional.
e.       Pengkajian status neurovaskuler; nyeri tekan

3.2  Pemeriksaan diagnostik.
Radiografi, tomografi, pemindaian tulang, radisotop, atau biopsi tulang bedah, tomografi paru, tes lain untuk diagnosis banding, aspirasi sumsum tulang (sarkoma ewing). (Wong, 2003).
Hasil pemeriksaan biasanya :
a.       Terdapat gambaran adanya kerusakan tulang dan pembentukan tulang baru.
b.      Adanya gambaran sun ray spicules atau benang-benang tulang dari kortek tulang.
c.       Terjadi peningkatan kadar alkali posfatase.

3.3  Diagnosa Keperawatan
1.      Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologi
2.      Koping tidak efektif berhubungan dengan rasa takut tentang ketidak tahuan, persepsi tentang proses penyakit, dan sistem pendukung tidak adekuat
3.      Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik berkenaan dengan kanker.
4.      Gangguan harga diri karena hilangnya bagian tubuh atau perubahan kinerja peran. (Doengesm 1999).
5.      Berduka berhubungan dengan kemungkinan kehilangan alat gerak. (Wong, 2003)

3.4  Rencana intervensi dan rasional.
a.          Diagnose keperawatan 1 : Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologi
b.         Tujuan : klien mengalami pengurangan nyeri
c.          Kriteria hasil :
-    Mengikuti aturan farmakologi yang ditentukan
-    Mendemontrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan sesuai indikasi situasi individu.
No.
Intervensi
Rasional
1
Kaji status nyeri ( lokasi, frekuensi, durasi, dan intensitas nyeri )
memberikan data dasar untuk
 menentukan dan mengevaluasi
 intervensi yang diberikan.
2
Berikan lingkungan yang nyaman, dan  aktivitas hiburan ( misalnya : musik, televisi )
Meningkatkan relaksasi klien
3
Ajarkan teknik manajemen nyeri seperti teknik relaksasi napas dalam, visualisasi, dan bimbingan imajinasi
meningkatkan relaksasi yang dapat menurunkan rasa nyeri klien
4
Kolaborasi :
Berikan analgesik sesuai kebutuhan untuk nyeri
mengurangi nyeri dan spasme otot. (Doenges, 1999).

a.       Diagnose keperawatan 2 : Koping tidak efektif berhubungan dengan rasa takut tentang ketidak tahuan, persepsi tentang proses penyakit, dan sistem pendukung tidak adekuat.
b.      Tujuan : Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif dan partisipasi aktif dalam aturan pengobatan
c.       Kriteria hasil :
-   Pasien tampak rileks
-   Melaporkan berkurangnya ansietas
-   Mengungkapkan perasaan mengenai perubahan yang terjadi pada diri klien
No.
Intervensi
Rasional
1
Motivasi pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan
Memberikan kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa takut serta kesalahan konsep tentang diagnosis.
2
Berikan lingkungan yang nyaman dimana pasien dan keluarga merasa aman untuk mendiskusikan perasaan atau menolak untuk berbicara
Membina hubungan saling percaya dan membantu pasien untuk merasa diterima dengan kondisi apa adanya
3
Pertahankan kontak sering dengan pasien dan bicara dengan menyentuh pasien.
Memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri atau ditolak
4
Berikan informasi akurat, konsisten mengenai prognosis
Daa t menurunkan ansietas dan memungkinkan pasien membuat keputusan atau pilihan sesuai realita.(Doenges, 1999)

a.       Diagnose keperawatan 3 : Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik berkenaan dengan kanker.
b.      Tujuan : mengalami peningkatan asupan nutrisi yang adekuat.
c.       Kriteria hasil :
-    penambahan berat badan, bebas tanda malnutrisi, nilai albumin dalam batas normal ( 3,5 – 5,5 g% ).
No.
Intervensi
Rasional
1
Catat asupan makanan setiap hari
Mengidentifikasi kekuatan atau defisiensi  nutrisi
2
Ukur tinggi, berat badan, ketebalan kulit trisep setiap hari
Mengidentifikasi keadaan malnutrisi protein kalori khususnya bila berat badan dan pengukuran antropometrik kurang dari normal
3
Berikan diet TKTP dan asupan cairan adekuat
Memenuhi kebutuhan metabolik jaringan. Asupan cairan adekuat untuk menghilangkan produk sisa
4
Kolaborasi :
Pantau hasil pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi
Membantu mengidentifikasi derajat malnutrisi.  (Doenges, 1999)

a.       Diagnose keperawatan 4 : Gangguan harga diri karena hilangnya bagian tubuh atau perubahan kinerja peran. (Doenges 1999).
b.      Tujuan : mengungkapan perubahan pemahaman dalam gaya hidup tentang tubuh, perasaan tidak berdaya, putus asa dan tidak mampu
c.       Keriteria hasil :
-    Mulai mengembangkan mekanisme koping untuk menghadapi masalah secara efektif
No.
Intervensi
Rasional
1
Diskusikan dengan orang terdekat pengaruh diagnosis dan pengobatan terhadap kehidupan pribadi pasien dan keluarga
Membantu dalam memastikan masalah untuk memulai proses pemecahan masalah
2
Motivasi pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan tentang efek kanker atau pengobatan
Membantu dalam pemecahan masalah
3
Pertahankan kontak mata selama interaksi dengan pasien dan keluarga dan bicara dengan menyentuh pasien
Menunjukkan rasa empati dan menjaga hubungan saling percaya dengan pasien dan keluarga. (Doenges, 1999)

a.       Diagnose keperawatan 5 : Berduka berhubungan dengan kemungkinan kehilangan alat gerak. (Wong, 2003).
b.      Tujuan : Keluarga dan klien siap menghadapi kemungkinan kehilangan anggota gerak .
c.       Kriteria hasil :
-    Pasien menyesuaikan diri terhadap kehilangan anggota gerak
-    Mengalami peninggkatan mobilitas
No.
Intervensi
Rasional
1
Lakukan pendekatan langsung dengan klien
Meningkatkan rasa percaya dengan klien
2
Diskusikan kurangnya alternatif pengobatan
Memberikan dukungan moril kepada klien untuk menerima pembedahan
3
Ajarkan penggunaan alat bantu seperti kursi roda atau kruk sesegera mungkin sesuai dengan kemampuan pasien
Membantu dalam melakukan mobilitas dan meningkatkan kemandirian pasien.
4
Motivasi dan libatkan pasien dalam aktifitas bermain
Secara tidak langgsung memberikan latihan mobilisasi. (Wong, 2003)

3.5  Evaluasi
a.       Pasien mampu mengontrol nyeri
-    Melakukan teknik manajemen nyeri,
-    Patuh dalam pemakaian obat yang diresepkan.
-    Tidak mengalami nyeri atau mengalami pengurangan nyeri saat istirahat, selama menjalankan aktifitas hidup sehari-hari
b.      Memperlihatkan pola penyelesaian masalah yang efektif.
-    Mengemukakan perasaanya dengan kata-kata
-    Mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki pasien
-    Keluarga mampu membuat keputusan tentang pengobatan pasien
c.       Masukan nutrisi yang adekuat
-    Mengalami peningkatan berat badan
-    Menghabiskan makanan satu porsi setiap makan
-    Tidak ada tanda – tanda kekurangan nutrisi
d.      Memperlihatkan konsep diri yang positif
-    Memperlihatkan kepercayaan diri pada kemampuan yang dimiliki pasien
-    Memperlihatkan penerimaan perubahan citra diri
e.       Klien dan keluarga siap intuk menghadapi kemungkinan amputasi






BAB IV
PENUTUP

4.1  Kesimpulan
Dalam tubuh manusia terdapat rangka matang yang terdiri dari tulang, jaringan fibrosa dan rawan. Dari sel-sel ini atau jaringan mesenkim primitif asalnya, bisa berkembang neoplasma rangka primer jinak atau ganas. Neoplasma juga bisa muncul dari jaringan tubuh mana saja yang nantinya akan menginvasi tulang dan menyebabkan destruksi tulang local, hal ini lah yang dinamakan neoplasma sekunder. Pada pasien dengan neoplasma, tujuan perawatan yang diberikan adalah untuk menyembuhkan tulang yang terserang penyakit dan tentu saja menghilangkan tumor jika tumor tersebut dianggap berbahaya. Terapi mencakup pembedahan, kemoterapi, dan radiasi yang tergantung pada tipe tumor dan penyebarannya. Perawatan tumor tulang metastatic sering bersifat palliative, yaitu hanya meredakan tetapi tidak untuk menyembuhkan.

4.2  Saran
Sebagai seorang perawat, sedah menjadi kewajiban untuk memberikan tindakan perawatan dalam asuhan keperawatan yang diarahkan kepada pembentukan tingkat kenyamanan pasien, manajemen rasa sakit dan keamanan. Perawat harus mampu mamahami faktor psikologis dan emosional yang berhubungan dengan diagnosa penyakit, dan perawat juga harus terus mendukung pasien dan keluarga dalam menjalani proses penyakitnya.
DAFTAR PUSTAKA


Carpenito, Lynda juall. 2001. Dokumentasi Asuhan Keperawatan Edisi 8. Jakarta : EGC.

Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.

Doenges, E, Marilyn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan keperawatan pasien. Edisi 3 . Jakarta : EGC.

Gole, Danielle & Jane Chorette. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Jakarta : EGC.

Otto, Shirley E. 2003. Buku Saku Keperawatan Onkologi. Jakarta : EGC.

Price, Sylvia & Loiraine M. Wilson. 1998. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC.

Rasjad, Choiruddin. 2003. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makasar : Bintang Lamimpatue.

Sjamjuhidayat & Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC.

Smeltzer & Brenda G. bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Vol III. Edisi 8. Jakarta : EGC.

Wong, Donna. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC.

1 komentar:

  1. thaks min sangat membantu benget dalam saya ngerjain tugas kuliah ini.
    saya mau izin sharing materi keperawatan, semoga bermanfaat bagi semuanya.
    perawat indonesia
    UKOM perawat
    Askep

    BalasHapus